Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak

Tanggung Jawab Orang Tua Terhdap Anak

Oleh: Ustadz Ja’far Shadiq

Ahad, 7 Juni 2009

  1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman (Imaniyah)

Pendidikan iman adalah:

-         Mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan sejak ia mengerti

-         Membiasakannya dengan rukun Islam sejak ia memahami

-         Mengajarkan dasar-dasar syariat sejak usia tamyiz

Pemahaman pendidikan ini harus dudasarkan pada wasiat-wasiat Rasulullah SAW, diantaranya:

A. Membuka Kehidupan Anak dengan Kalimat LA ILAHA ILLA ALLAH

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

“Bacakanlah kepada anak-anakmu kalimat pertama dengan LAA ILAHA ILLA ALLAH”

B. Mengenalkan Hukum Halal dan Haram Kepada Anak Sejak Dini

Ibnu Jarrir dan Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia berkata: “Ajarkanlah mereka untuk taat kepada ALLAH dan takut berbuat maksiat kepada ALLAH serta suruhlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Karena hal itu akan memelihara mereka dari api neraka

C. Menyuruh Anak Untuk Beribadah ketika Memasuki Usia Tujuh Tahun

Al Hakim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Amr bin Al Ash ra. dari  Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda:

Perintahkanlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat pada usia tujuh tahun. Dan jika mereka berusia sepuluh tahun maka pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya dan pisahkanlah diantara mereka dalam tempat tidurnya”.

D. Mendidik Anak untuk Mencintai Rasul, Keluarganya, dan Membaca AL QURAN

Ath Thabrani meriwayatkan dari Ali ra. bahwa Nabi bersabda:

Didiklah anak-anakmu pada tiga hal: Mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca AL QURAN. Sebab orang-orang yang ahli AL QURAN berada dalaml lindungan singgasana ALLAH pada hari tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya beserta para Nabi-Nya dan pilihan-Nya”.

2. Tanggung Jawab Moral (khuluqiyyah)

Wasiat dan petunjuk Rasulullah SAW:

Dari Ayyub bin Musa dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَاً مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ. رواه الترمذى

Tidak ada suatu pemberian yang lebih utama yang diberikan seorang ayah kepada anaknya kecuali budi pekerti yang baik“. HR. At Turmudzi

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik”. HR Ibnu Majah

Dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah SAW:

Diantara yang menjadi hak seorang anak atas orang tuanya adalah memperoleh budi pekertinya dan menamakannya dengan nama yang baik”. HR. Baihaqi

Fenomena-fenomena yang merupakan perbuatan buruk, moral terendah antara lain:

A. Berbohong

Keburukan berbohong:

- Merupakan tanda kemunafikan

- Mendapatkan murka ALLAH

- Dikategorikan sebagai pendusta

- Merupakan pengkhianatan

Bukhari, Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Jauhilah perbuatan dusta, sebab seseungguhnya dusta itu dapat mengakibatkan perbuatah durhaka, dan sesungguhnya perbuahatan durhaka itu akan menyeret kepada api neraka. Selama hamba itu berdusta dan terus-menerus berdusta, maka ALLAH akan mencatatnya sebagai pendusta”.

Abu Dawud meriwayatkan dari Suyfan Usaid Al Hadhromi ra. ia mendengarkan Rasulullah SAW bersabda:

Suatu pengkhianatan besar, apabila engkau berbicara kepada suadaramu dan ia membenarkan pembicaraanmu padahal engkau berdusta”.

Abu Dawud dan Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Amir ra.:

Pada suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah SAW duduk di tumah kami, ibuku berkata: “kemarilah aku akan memberimu” kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku berkata, “Aku akan memberikanmu kurma”. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya. “Kalau engkau tidak memberi sesuatu kepadanya, maka engkau akan dicatat sebagai pendusta”.

B. Mencuri

Ada sebuah cerita dari Abdullah bin Dinar, suatu hari aku keluar bersama Umar bin Khattab ra. menuju Makkah. Tiba-tiba seseorang penggembala turun dari gunung menghampiri kami. Umar berkata kepadanya untuk mengujinya, “Hai penggembala, juallah satu ekor kambing diantara kambing-kambing itu kepada kami”. Penggembala itu berkata, “Saya hanyalah seorang budak”. Umar berkata kepadanya, “Katakanlah kepada tuanmu, bahwa kambing itu dimakan serigala”. Penggembala itu bertanya, “Dimana ALLAH?”. Maka menangislah Umar ra. Lalu berangkat bersama budak itu. Kemudian dibelinya dari tuannya dan dibebaskannya. Umat berkata kepada budak penggembala itu. “Kalimat itu telah memerdekakanmu di dunia dan semoga kalimat itu pun akan memerdekakanmu di akhirat”

C. Suka Mencela dan Mencemooh

سِبَابُ اْلمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencaci maki muslim itu adalah petbuatan fasiq, sedangkan membunuhnya adalah perbuatab kufur“. HR Bukhari, Muslim dan lainnya

Orang mukmin itu tidak suka mencacu, tidak suka melaknat, tidak suka berkata keji serta tidak suka berkata kotor”. HR. At Turmudzi

D. Kenakalan dan Penyimpangan

Diantara pendidikan yang menjaga dari hal di atas adalah:

1. Menghindari Peniruan dan Taklid Buta

Janganlah salah seorang diantara kalian tidak memiliki pendirian dan berkata, “Aku bersama orang lain, jika mereka baik aku pun baik,  jika mereka buruk aku pun buruk”. Tetapi tetaplah pendirianmu, jika mereka baik maka baiklah dan jika mereka buruk maka jauhilah keburukan itu”. HR. At Turmudzi

2. Tidak teralalu larut dalam kenangan/ kemewahan

Imam Ahmad dan Abu Na’im meriwayatkan dari Mu’adz bun Jabal ra. secara marfu’ (langsung ke Rasulullah SAW)

Janganlah kamu bersenang-senang. Karena seseungguhnuya hamba-hamba ALLAH itu bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”.

Maksud bersenang-senang di sini adalah berlebihan dalam kesenangan.

3. Tidak mendengarkan musik dan lagu-lagu porno

Barang siapa yang duduk mendengarkan nyanyian biduanita, maka ALLAH akan menuangkan air timah yang meleleh ke dalam telinganya pada hari kiamat”. HR Ibnu Asakir

4. Tidak bergaya dan bersikap menyerupai wanita

Sesungguhnya ALLAH mengutuk para lelaki yang bersikap dan bergaya seperti wanita, dan para wanita yang bersikap dan bergaya seperti lelaki”. HR. Bukhari, Abu Dawud dan At Turmudzi

5. Larangan pergaulan bebas dan memandang yang diharamkan

Janganlah seorang laki-laki dan wanita menyepi berduaan, karena ada setan sebagai pihak ketiga diantara mereka berdua”. HR At Turmudzi

Katakanlah kepada orang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya

3. Tanggung Jawab Fisik (Jasadiyah)

Hal ini dimaksudkan agar anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah dan bersemangat.

A. Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga dan anak

وَ اْلوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ صلى لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُّتِمَّ اْلرَّضَاعَة َج وَعَلىَ اْلمَوْلُوْدِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِاْلمَعْروْفِ ج لاَ تُكَلَّفُ نَفْس أِلاَّ وُسْعَهَا

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”(QS. 2: 233)

B. Mengikuti hidup sehat dalam makan, minum dan tidur

C. Melindungi diri dari penyakit menular

D. Pengobatan tergadap penyakit

E. Merealisasikan prinsip hidup “Tidak menyakiti diri sendiri dan orang laing”

F. Membiasakan anak berolah raga dan bermain ketangkasan

G. Membiasakan anak untuk zuhud dan tidak larit dalam kenikmatan

H. Membiasakan anak bersikap tegas dan menjauhkan diri dari pengangguran

4. Tanggung jawab pendidikan rasio (aqliyyah)

Yaitu membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti: tauhid, fiqh, mu’ammalah, kebudayaan, peradaban, dll.

  1. Kewajiban mengajar
  2. Menumbuhkan kesadaran berfikir
  3. Kejernihan berfikir

5. Tanggung jawab pendidikan kejiwaan (Nafsiyyah)

Yaitu untuk mendidik anak sejak mulai mengerti untuk bersikap berani terbuka, mandiri, suka menolong, bisa mengendalikan amarah dan senang kepada semua bentuk keutamaan jiwa dan moral sevara mutlak. Beberapa sikap yang harus dihindari: Sifat minder, penakut, kurang percaya diri, dengki dan pemarah.

6. Tanggung jawab pendidikan sosial (Ijtima’iyyah)

Yaitu mendidik anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama, antara lain:

  1. Penanaman prinsip dasar kejiwaan yang utama
  2. Memelihara hak orang lain
  3. Melaksanakan etika sosial
  4. Pengawasan dan kritik sosial

7. Tanggung jawab pendidikan seksual (Jinsiyyah)

Yaitu upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sejak ia mengenal naluri seks dan perkawinan. Hal ini ada empat fase, yaitu:

1. Usia 7 – 10 tahun

Disebut dengan tamyis (prapubertas). Pada masa ini, anak diberi pelajaran tentang etika meminta izin dan memandang sesuatu

2. Usia 10 -14 tahun

Disebut masa murahaqah (masa peralihan/pubertas). Pada masa ini. Anak coba dihindarkan dari berbagai rangsangan seksual.

3. Usia 14-16 tahun

Disebut masa baligh (adolesen). Jika anak sudah siap untuk menikah, pada masa ini anak diberi pendidikan tentang etika/ adab hubungan seksual.

4. Usia lebih dari 16 tahun

Setelah masa adolesen disebut masa pemuda. Pada masa ini anak diberi pelajaran tentang cara melakukan isti’faf (menjaga diri dari perbuatan tercela), jika ia belum mampe melaksanakan pernikahan.

Advertisement

2 responses to this post.

  1. info yang sangat bagus, kritis dan membangun….. trim’s

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.