Ms Word to WordPress

Ini adalah postingan dari Microsoft WordPress 2007. Hanya mencoba.

TPA Al Istiqomah Ikut Serta dalam Program Desa Binaan BEM IT Telkom 2009-2010

Bertempat di Gedung Serba Guna Institut Teknologi Telkom, puluhan santri TPA Al Istiqomah beserta santri-santri dari TPA peserta Program Desa Binaan BEM IT Telkom 2009 dengan semangat mengikuti penutupan rangkaian acara Program Desa Binaan BEM IT Telkom 2009-2010.

Program Desa Binaan merupakan salah satu program kerja yang baru dari BEM IT Telkom. Inti dari kegiatan ini adalah membangun hubungan silaturahim antara masyarakat dengan mahasiswa IT Telkom yang diwakili panitia  kegiatan agar lebih saling dekat dan mahasiswa dapat membina secara langsung masyarakat dalam bidang pendidikan dan sosial.

Salah satu acara dari program ini adalah, mengajar di beberapa TPA di sekitar kampus, yang tentu saja TPA Al Istiqomah menjadi salah satu TPA yang ikut dibina. Selama ikut membantu proses pengajaran di TPA Al Istiqomah, ternyata ada salah satu panitia yang masih ingin meneruskan menjadi staf pengajar di TPA Al Isiqomah meski program ini sudah resmi ditutup. Alhamdulillah, Kak Yanuar namanya, keinginannya untuk terus mengajar tentu saja tidak disia-siakan oleh pengurus TPA untuk merekrutnya menjadi pengajar tetap di TPA Al Isitiqomah yang tercinta.

Selain mengajar, panitia juga mengadakan perlombaan kaligrafi yang pembagian hadiah (lebih tepatnya kenang-kenangan) dibagikan pada waktu penutupan Program Desa Binaan yang dilaksanakan pada tanggal 4 Desember 2009 jam 19.00 WIB.

Berikut beberapa dokumentasi acara penutupan Program Desa Binaan tersebut.

Penyerahan hadiah pemenang lomba cerdas cermat juara 2(foto Raka-kelas Umar)

Selain lomba kaligrafi, saat penutupan, panitia juga mengadakan lomba cerdas cermat yang meniru salah satu program tv swasta nasional “are you greater than fifth grader?” yang menghadirkan peserta dari pihak mahasiswa yang ternyata sempat terkalahkan oleh peserta dari siswa kelas 5-6 SD, dan salah satunya adalah Raka, santri kelas Umar TPA Al Isitiqomah ini.

Paduan suara dari SD Sukabirus

Paduan suara dari SD Sukabirus

Tim SD Sukabirus

Tim SD Sukabirus setelah selasai acara

Islam Menyuruh Kita untuk Menyucikan Allah bukan Menyucikan Manusia

Oleh: Ust. Ihsan Tandjung

Kalimat Tauhid di dalam ajaran Islam mengandung banyak konsekuensi. Seorang Muslim atau ahli Tauhid hanya mengesakan, memuji, mengagungkan, membesarkan dan mensucikan Allah semata. Sebab demikianlah tuntutan ajaran Tauhid. Di antara ekspresi seorang ahli Tauhid ialah seringnya terlontar dari bibirnya kalimat-kalimat seperti Subhaanallah (Maha Suci Allah), Alhamdulillah (segala Puji hanya bagi Allah), Laa ilaaha illa Allah (Tiada ilah selain Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha Besar). Semua kalimat itu diucapkannya dengan penuh pemahaman, penghayatan dan keyakinan.

Seorang Muslim yang faham makna kalimat Subhaanallah tidak akan terjebak ke dalam anggapan adanya fihak lain selain Allah yang pantas disucikan.

Ia tahu hanya Allah sajalah di dalam hidup ini yang tidak mengandung cacat dan kekurangan. Allah adalah Dzat Yang Maha Sempurna. Oleh karena itu sepanjang perjalanan sejarah dunia Allah mengutus para Nabi dan Rasul dengan tujuan untuk menjernihkan aqidah ummat manusia. Sebab manusia memiliki kecenderungan untuk merasa butuh mensucikan sesuatu di dalam hidupnya. Namun sayang, kebanyakan manusia bodoh akan Ma’rifatullah (Pengenalan akan Allah) sehingga mereka akhirnya menjadikan banyak fihak selain Allah sebagai fihak yang disucikan sedemikian rupa sebagaimana semestinya mereka mensucikan Allah Subhaanahu wa Ta’aala (Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi).

Di antara mereka ada yang mensucikan sesama manusia yang dianggap sangat mulia. Sedemikian rupa pensucian itu sehingga mereka memposisikan manusia yang dimuliakan itu berlebihan alias melampaui batas.

Seperti yang dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap Uzair dan kaum Nasrani terhadap Nabiyullah Isa putra Maryam ’alahis-salam.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ
ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا
مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: ”Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?

Kaum Nasrani telah memposisikan Nabiyullah Isa sebagai anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri. Oleh karenanya kita ummat Islam sangat bersyukur adanya sebuah surah di dalam Al-Qur’an yang memberikan pengetahuan fundamental mengenai aqidah tauhid, yaitu surah Al-Ikhlas.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

”Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.(QS Al-Ikhlas ayat 1-4)

Dengan tegas dan jelas surah di atas memberikan dasar-dasar aqidah pengesaan Allah di dalam ajaran Islam. Sejak SD kebanyak muslim sudah hafal surah di atas di luar kepala. Sehingga bagi seorang muslim adalah suatu hal yang tidak masuk di akal bila ada sesama manusia yang diposisikan sebagai anak tuhan apalagi sebagai tuhan itu sendiri. Karena jelas diegaskan bahwa Allah itu ” tiada beranak dan tiada pula diperanakkan” dan bahwa Allah itu ”tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”.

Oleh karenanya di dalam Islam kita diajarkan agar jangan mensucikan, mengagungkan atau mengagumi sesama manusia berlebihan.

Malah dalam rangka prefentif, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sudah menutup celah muncul dan berkembangnya penyakit mensucikan sesama manusia dalam bentuk teguran keras beliau ketika menyaksikan seorang muslim memuji sesama muslim berlebihan. Perhatikanlah hadits di bawah ini:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
مَدَحَ رَجُلٌ رَجُلًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ فَقَالَ وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ قَطَعْتَ عُنُقَ
صَاحِبِكَ مِرَارًا إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا صَاحِبَهُ لَا مَحَالَةَ
فَلْيَقُلْ أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا
أَحْسِبُهُ إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَاكَ كَذَا وَكَذَا

Hadis riwayat Abu Bakrah ra., ia berkata: Seorang lelaki memuji orang lain di hadapan Nabishollallahu ’alaih wa sallam maka beliau bersabda: “Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher temanmu, kamu telah memenggal leher temanmu!” Beliau mengucapkannya berulang-ulang. ”Apabila seorang di antara kamu terpaksa harus memuji temannya, hendaklah ia berkata: Aku mengetahui kebaikan si Fulan namun Allah lebih mengetahui keadaannya, dan aku tidak memberikan kesaksian kepada siapa pun yang aku ketahui di hadapan Allah karena Allah lebih mengetahui keadaannya yang sebenarnya”. (HR Muslim 5319)

Bayangkan, saudaraku. Betapa keras teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada seseorang yang telah memuji orang lainnya. Sedemikian kerasnya teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sehingga tindakan memuji sesama manusia itu disetarakan dengan memenggal leher teman artinya membunuhnya…! Dan hal ini dikatakan berulang-kali oleh Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mengapa teguran Nabi shollallahu ’alaih wa sallam begitu kerasnya? Karena Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sangat khawatir bila ummat beliau terjatuh kepada penyimpangan ummat terdahulu, khususnya kaum Yahudi dan Nasrani. Sebab penyimpangan seperti ini dapat dipandang sebagai salah satu bentuk mempersekutukan Allah. Dan itu berarti termasuk dosa besar. Bahkan dosa yang tidak bisa diampuni Allah.

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ
لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

”Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS An-Nisa ayat 48)

Sehingga dalam kesempatan lainnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bahkan pernah menegur keras para sahabat ketika beliau dapati mereka melakukan bentuk penghormatan berlebihan kepada diri Rasulullah.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ
سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُطْرُونِي كَمَا
أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ

Ibnu Abbas mendengar Umar berkata dari atas mimbar: ”Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba. Maka ucapkanlah: hamba Allah dan RasulNya.” (HR Bukhary 3189)

Subhanallah… Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sadar dan faham betul bahwa kemusyrikan seringkali bermula dari bentuk mensucikan orang-orang mulia seperti para Nabi sebagaimana yang dialami oleh kaum Nasrani yang bermula dari mensucikan Nabi Isa berlebihan akhirnya menjadi melampaui batas sehingga dewasa ini kaum Nasrani meyakini bahwa Nabi Isa adalah anak tuhan bahkan tuhan itu sendiri.

Saudaraku, berarti Islam sangat tidak membenarkan hadirnya berbagai bentuk penghormatan berlebihan kepada sesama manusia walau terhadap seorang Nabiyullah sekalipun.

Dan jika Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam melarang ummatnya untuk mengkultuskan diri beliau, bagaimana lagi gerangan kerasnya teguran beliau jika saja beliau bisa menyaksikan perlakuan sebagian ummat Islam di zaman kita yang mengkultuskan kalangan yang mengaku diri mereka sebagai ”keturunan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam”? Atau pengkultusan terhadap seorang Kyai atau Ajengan di sebuah Pesantren? Atau pengkultusan para kader kepada Qiyadah/pimpinan sebuah Jama’ah minal Muslimin dalam bentuk mentaati segala keputusan-keputusannya walau sudah jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah?

اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم ، وأستغفرك مما لا أعلم

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari mempersekutukan Engkau sedang aku mengetahuinya dan aku mohon ampun kepadaMu dari apa-apa yang tidak kuketahui.

Sumber: http://bertahajudlah.blogspot.com

Ibu, Manajer Operasional Rumah Tangga

Ibu, Manajer Operasional Rumah Tangga

Dalam kehidupannya,  setiap manusia yang telah baligh dan berakal, laki-laki atau wanita, kelak di ‘yaumul akhir’ akan dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatannya selama di dunia. Jika telah mencapai usia baligh, dapat dikatakan bahwa setiap manusia, termasuk juga wanita –minimal– adalah Pemimpin bagi dirinya sendiri. Baru kemudian peran dan tanggung jawab kepemimpinan seorang Muslimah akan berkembang dan melebar dalam peran-peran yang akan diembannya di kemudian hari.

Abdullah bin Umar r.a. mengabarkan, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Setiap kamu adalah Pemimpin. Dan setiap Pemimpin bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Imam itu pemimpin dalam keluarganya, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Laki-laki itu pemimpin, bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Wanita itu pemimpin dalam rumah tangganya, dan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya. Khadam itu pemimpin bagi harta majikannya, bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya”(HR. Bukhari)

Dari ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah bersabda :”….dan wanita / istri adalah pemimpin atas penghuni rumah suaminya dan anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka.(HR. Bukhari dan Muslim).

Peran seorang Muslimah akan berkembang seiring pertambahan usia, kedewasaan dan tahapan kehidupan yang dimasukinya. Lingkup Tugas dan tanggung jawabnya berkembang mulai dari perannya sebagai Anak, berlanjut ke tugas dan tanggung jawab sebagai Istri, kemudian sebagai Ibu dan seiring dengan semua tahapan itu tugas dan tanggung jawabnya dalam masyarakatpun berkembang.

Dalam hadits diatas disebutkan bahwa Wanita itu pemimpin dalam rumahtangganya , pemimpin atas penghuni rumah suaminya dan anaknya dan akan bertanggung jawab tentang kepemimpinannya.Oleh karena itu untuk dapat menjadi seorang pemimpin yang baik dan mampu mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya kepada suaminya dan tentunya kepada Allah SWT kelak, seorang Ibu – tidak bisa tidak, kudu, harus– memiliki  Ilmu yang memadai.

Kepemimpinan  Wanita terhadap anak-anak

“ Al Umm madrasatu al  ûlâ. ( Ibu adalah sekolah/madrasah  pertama bagi anak-anaknya).

“Seorang Ibu ibarat sekolah..

Apabila kamu siapkan dengan baik..

berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya”.

( Yusuf Qardhawi, Pengantar “Kebebasan Wanita” Jilid I, GIP, 1990))

Peran yang demikian strategis ini, menuntut wanita untuk membekali  Dirinya dengan ilmu yang memadai. Maka, wanita harus terus bergerak  meningkatkan kualitas dirinya. Karena, untuk mencetak generasi yang  berkualitas, dibutuhkan pendidik yang berkualitas pula. Hal itu berarti, seorang wanita tidak boleh berhenti belajar.

Wanita adalah guru pertama bagi sang anak, sebelum dididik orang lain. Sejak ruh ditiupkan ke dalam rahim, proses pendidikan sudah dimulai. Sebab mulai saat itu, anak telah mampu menangkap rangsangan-rangsangan yang dberikan oleh ibunya.

Bila seorang ibu membiasakan anaknya dari kandungan sampai dewasa dengan adab-adab Islam, ia pun akan terbiasa dengan hal itu. Tapi sebaliknya, bila ibu membiasakan dengan adab-adab yang tidak Islami, ia pun akan ikut seperti ibunya. Saat inilah shibgah seorang ibu sangat berpengaruh pada anak. Karena perkembangan otak sangat cepat. Daya ingat masih kuat. Bagi seorang ibu perlu memperhatikan hal berikut :

A. Pendidikan /Tarbiyah Ruhiyyah.

1. Pendidikan Akidah.

Bagaimana seorang ibu mampu menanamkan akidah sedini mungkin, sehingga anak meyakini bahwa kita hidup tidak semau kita. Tapi di sana ada pengatur, pengawas tujuan hidup, akhir dari kehidupan. Kemudian meyakini bahwa apa yang terjadi pada kita, pasti akan kembali pada sang khalik. Hal itu terangkum dalam rukun iman yang enam. Ketika ia besar, ia tidak lagi ragu dan bingung mencari jati diri.

2. Pendidikan Ibadah

Ketika ibu menjalani kehamilan sampai melahirkan, tidaklah berat baginya untuk mengajak si calon bayi untuk ikut serta dalam melakukan ibadah harian. Seperti: sholat, puasa, baca Alquran, berdoa, berdzikir, dan lain sebagainya. Walau mungkin anak tidak paham apa yang dilakukan dan diinginkan ibunya, tapi ketika ia menginjak dewasa (baligh), Insya Allah ibadah-ibadah tadi akan mudah diajarkan. Sebab sudah sering melihat dan mendengar, sehingga takkan terasa berat menjalaninya.

3. Pendidikan Akhlak.

Pembiasaan akhlak yang baik tidak perlu menunggu anak dewasa. Dari sini harus sudah dibiasakan. Sebab kebiasaan yang baik, kalau tidak dibiasakan dalam waktu yang lama, sangat sulit untuk menjadi akhlak. Justru ketika kebiasaan baik tidak ada dalam diri kita, dengan sendirinya kebiasaan buruk akan menghiasinya tanpa harus dibiasakan.

Jika semenjak dalam kandungan seorang anak dibiasakan mencintai orang lain, maka ketika lahir, ia pun akan berusaha untuk mencintai orang lain. Apabila sfat-sifat sabar, tawadlu, itsar, tabah, pemurah, suka menolong orang lain dan sebagainya dibiasakan, insya Allah ketika anak sudah paham dan mengerti, akhlak-akhlak tadi akan menghiasi kehidupannya.

Oleh sebab itu, Rasul menganjurkan kepada para pemuda yang sudah waktunya nikah, untuk memilih calon istrinya seorang wanita yang beragama dan berakhlak baik. Sebab dari wanita inilah, akan terlahir generasi yang beragama dan berakhlak baik juga. Ibu seperti inilah yang akan mengajarkan tuntunan agama yang telah terbiasa dan tertathbiq dalam dirinya. Di antara tuntunan tersebut adalah akhlak yang mulia. Sedangkan wanita yang cantik, pintar, atau kaya tidak menjamin akan melahirkan anak-anak yang berakhlak mulia.

B. Pendidikan Akal

Kata seorang penulis puisi, “Otak tidak diasah, akan tumpul”. Pengasahan otak semenjak kecil akan lebih bagus, ketimbang jika sudah besar. Bagai sebuah pisau, semakin lama waktu mengasahnya, maka akan semakin tajam. Dalam nasyid juga disebutkan, “Belajar diwaktu kecil, bagai mengukir di atas batu”. Tapi seorang ibu juga harus bijaksana dalam hal ini. Jangan sembarangan dalam memberikan buku-buku bacaan, untuk mengasah otak. Cukup banyak buku-buku yang ingin menghancurkan generasi Islam.

C. Pendidikan Jasmani

Rangsangan-rangsangan ibu berupa olah-raga balita, sangat membantu anak dalam perkembangan tubuhnya. Percepatan proses semenjak si anak tengkurap, merangkak, jalan dan lari, tidak bisa dibiarkan sendiri. Karena pada hakikatnya, insting yang dimiliki anak belum mampu menjangkau apa yang harus ia lakukan agar bisa berbuat seperti orang dewasa. Contoh kecilnya, ketika lahir, Rasulullah menyuruh para orang tua untuk mentahniq dengan memijat langit-langit mulut agar mampu mengisap air susu ibunya. Pendidikan Jasmani ini tidak terbatas pada usia balita, tapi bahkan sampai dewasa dan tua.

Kepemimpinan Wanita dalam Urusan Rumah Tangga

Dari Ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah bersabda “…dan wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan  dia harus bertanggung jawab”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu luasnya permasalahan yang terdapat dalam lingkup keluarga masa kini sama luasnya seperti yang diurus oleh sebuah Perusahaan. Oleh karena itu untuk mengelolanya diperlukan Ilmu khusus yang disebut  “Manajemen Rumah tangga”

Barangkali orang tua kita dahulu akan tertawa membaca ide menyamakan Keluarga dengan perusahaan, beranggapan terlalu mengada-ada tentang pentingnya manajemen rumah tangga. Bukankah orang tua kita dahulu tanpa Ilmu Manajemen itu berhasil juga membesarkan kita,anak-anaknya, hingga sukses seperti sekarang?

Namun bukankah Rasulullah menganjurkan kita mendidik anak seusai dengan Jamannya? Tentunya demikian pula kita harus menyesuaikan dengan jaman untuk mengelola persoalan yang lebih luas lingkupnya dan lebih tinggi tingkatannya, yaitu Mengelola Rumah tangga.

Rumah Tangga adalah Miniatur sebuah Perusahaan, didalamnya bisa terdapat beraneka permasalahan setiap harinya. Ragam permasalahanpun mencakup berbagai bidang yang luas. Untuk mengatur dan mengelolanya tentu diperlukan keahlian sama dengan keahlian mengelola Perusahaan.

Menurut Irawati Istadi, dalam bukunya “BUNDA MANAJER KELUARGA” setidaknya dalam Rumah Tangga, ada divisi-divisi berikut yaitu : Keuangan, Kerumahtanggaan, Properti, Pengembangan SDM, Bina Rohani, Personalia hingga HUMAS. Pada dasarnya Divisi yang akan dibuat dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing rumah Tangga. Penanggung Jawab dari semua Divisi ini adalah Ibu dalam kapasitasnya sebagai Manajer Operasional keluarga yang kemudian akan bertanggung Jawab kepada Ayah sebagai Manajer Utama.

Masing-masing Divisi harus dikelola dengan baik agar tugas kerumahtanggan dapat berlangsung lancar dan membawa hasil sesuai dengan yang dicita-citakan oleh Keluarga. Untuk itulah setiap Muslimah yang ingin menjadi Manajer Rumah Tangga yang profesional, harus menguasai dan mampu menerapkan Ilmu Manajemen Rumah Tangga.

( Prima Yuniarti )

sumber: www.voa-islam.com

ditaut dengan judul asli “Kepemimpinan Wanita Dalam Rumah Tangga”

Istri-istri Penghuni Surga

Istri-Istri Penghuni Surga

(disadur dengan judul asli “Istri-Istri Teladan Mujahidah”)

Seorang isteri bukanlah semata-mata orang kedua. Dia adalah satu pribadi. Satu pribadi yang memiliki level kepentingannya sendiri di dalam apa yang kita sebut keluarga. Sama halnya dengan anak, adik, kakak, ayah, dan suami. Itu makanya, tulisan ini tidak diberi judul “Isteri-isteri Nabi”, misalnya. Sebab mereka bukanlah sekadar “serombongan wanita” yang menjadi isteri seorang Nabi. Maksudnya, sebagai individu, masing-masing wanita ini memang punya mutu. Soal kemudian mereka diperisteri oleh Nabi Nabi Muhammad SAW, tokoh paling bermutu sepanjang sejarah manusia, itu soal kedua. Nah, soal kedua inilah yang lantas memahatkan nama mereka di hati ummat Islam hingga jaman yang akan datang. Selamat menikmati profil-profil ringkas wanita-wanita bermutu ini.

SITI KHADIJAH(Ummul Mukminin pertama).
Lahir di Mekkah tahun 556, Khadijah adalah wanita pertama pemeluk Islam. Ketika disunting Rasulullah SAW, ia seorang janda berusia 40 tahun. Berasal dari keluarga terpandang dan ia sendiri menjadi orang terkaya di kotanya. Sedangkan Rasulullah SAW masih muda, berusia sekitar 25 tahun dan dari keluarga miskin. Keinginan perkawinan itu datang dari pihak Khadijah.

Setelah menikah, semua kekayaan Khadijah dipergunakan sepenuhnya untuk mendukung dakwah Rasulullah SAW. Juga, karena kewibawaannya di hadapan suku Quraisy, ia pun menjadi pelindung Rasulullah SAW dari ancaman orang-orang Quraisy.

Rasulullah SAW sangat mencintai Khadijah. Meskipun Khadijah sudah meninggal beberapa tahun, Rasulullah SAW masih tetap mengenang. Sehingga pernah isterinya yang lain –Aisyah– memprotes cemburu. “Demi Allah, tidak ada ganti yang lebih baik dari dia, yang beriman padaku saat semua orang ingkar, yang percaya padaku ketika semua mendustakan, yang mengorbankan hartanya saat semua berusaha mempertahankannya;… dan darinyalah aku mendapatkan keturunan,” kata Rasulullah SAW di hadapan Aisyah.

Dari Khadijah, Nabi mendapat kurnia 7 anak: 3 putra dan 4 putri. Yang putra bernama al-Qasim, Abdullah, dan (Thaher, meninggal ketika masih bayi). Sedangkan yang putri: Zainab, Ruqayyah, Ummu Kalsum dan Fatimah. Sebelum dengan Nabi, Khadijah pernah menikah dengan Abu Halal an-Nabbasy bin Zurarah. Dari Abu Halal, Khadijah mendapat seorang anak.

Setelah Abu Halal meninggal, Khadijah menikah lagi dengan Atiq bin Abid al-Makhzumi. Sampai Atiq meninggal, mereka tidak dikurnia anak. Ummul mukminin al-Kubra (Ibu Kaum Mukminin yang Agung) ini sendiri meninggal pada 619 H.

SAUDAH BINTI ZUM’AH (Ummul Mukminin kedua).
Setelah Khadijah meninggal, Nabi baru bersedia menikah lagi. Saudah juga seorang janda. Suaminya, as-Sakran bin Amru al-Amiri, meninggal ketika hijrah ke Habsyi (Ethiopia).

Saudah sangat berduka ditinggal suaminya itu. Untuk mengobati duka itu, atas saran seorang wanita Khaulah binti Hakim As,Rasulullah SAW lantas meminang Saudah. Meskipun RasuluLlah SAW juga menyayangi Saudah, tetapi ternyata hatinya tidak mampu mencintai wanita ini. Karena merasa berdosa, RasuluLlah SAW lantas ingin menceraikan Saudah. Tapi apa kata Saudah, “Biarlah Rasulullah SAW aku begini. Aku rela malamku untuk Aisyah (Ummul Mukminin ke tiga Nabi). Aku sudah tidak membutuhkan lagi.”

Saudah wafat dimasa kekhalifahan Umar bin Khaththab hampir berakhir.

‘AISYAH BINTI ABU BAKAR (Ummul Mukminin ketiga).
Satu-satunya isteri Nabi yang masih gadis, ketika dinikahi Nabi. Putri sahabat Nabi, Abu Bakar ash-Shiddiq ini dilahirkan 8 atau 9 tahun sebelum Hijrah. Menikah berumur 6 tahun, namun baru 3 kemudian hidup serumah dengan Nabi. Budaya Arab, seorang laki-laki berumur menikahi seorang gadis belia, hal yang biasa. Salah satu sebabnya, wanita Arab fisiknya cenderung bongsor dibanding usianya.

Setelah Khadijah, Aisyahlah isteri yang paling dekat dengan Nabi. Cantik dan cerdas, begitu penampilannya.

Setelah Khadijah, Aisyahlah isteri yang paling dekat dengan Nabi. Cantik dan cerdas, begitu penampilannya. Karena kedekatan dan kecerdasannya itu, setelah Nabi wafat, banyak hadith yang ia riwayatkan. Terutama soal wanita dan keluarga. Ada 1.210 hadith yang diriwayatkan Aisyah, di antaranya 228 terdapat dalam hadith shahih Bukhari.

Selama mendampingi Nabi, Aisyah pernah dilanda fitnah hebat. Ceritanya, pada peperangan melawan Bani Mustaliq, berdasarkan undian di antara isteri-isteri Nabi, Aisyah terpilih mendampingi Nabi. Dalam perjalanan pulang, rombongan istirahat pada suatu tempat Aisyah turun dari sekedupnya (sejenis pelana yang beratap di atas punuk unta), karena ada keperluan. Kemudian kembali. Tetapi ada yang ketinggalan, ia kembali lagi untuk mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan perkiraan bahwa Aisyah sudah ada di sekedupnya. Aisyah tertinggal.

Ketika sahabat Nabi, Safwan bin Buattal menemuinya, Aisyah sudah tertidur. Akhirnya, ia pergi diantar Safwan. Peristiwa ini kemudian dimanfaatkan orang-orang kafir untuk menghantam Nabi. Disebarkan fitnah, Aisyah telah serong. Fitnah ini benar-benar meresahkan ummat. Bahkan Nabi sendiri sempat goyah kepercayaannya pada Aisyah. Sehingga turunlah wahyu surat An Nuur ayat 11. Inti wahyu itu, menegur Nabi dan membenarkan Aisyah.

Aisyah wafat pada malam Selasa, 17 Ramadhan 57 H, dalam usia 66 tahun. Shalat jenazahnya diimami oleh Abu Hurairah dan dimakamkan di Ummahat al-Mukminin di Baqi (sebelah Masjid Madinah) bersama Ummul Mukminin lainnya.

HAFSAH BINTI UMAR (Ummul Mukminin keempat).
Hafsah adalah janda Khunais bin Huzafah, sahabat Rasulullah SAW yang meninggal ketika perang Uhud.

Rasulullah SAW menikahi Hafsah, kerena kasihan kepada Umar bin Khattab –ayah Hafsah. Hafsah sedih ditinggal suaminya, apalagi usianya baru 18 tahun. Melihat kesedihan itu, Umar berniat mencarikan suami lagi.

Pilihannya jatuh kepada sahabatnya yang juga orang kepercayaan Rasulullah SAW, yakni Abu Bakar. Tapi ternyata Abu Bakar hanya diam saja. Dengan perasaan kecewa atas sikap Abu Bakar itu, Umar menemui Usman bin Affan, dengan maksud yang sama. Ternyata Usman juga menolak, karena dukanya atas kematian isterinya, belum hilang. Isteri Usman adalah putri Rasulullah SAW sendiri, Ruqayyah.

Lalu Umar mengadu kepada RasuluLlah SAW. Melihat sahabatnya yang marah dan sedih itu, Rasulullah SAW ingin menyenangkannya, lantas berkata “Hafsah akan menikah dengan orang yang lebih baik daripada Usman, dan Usman akan menikah dengan orang yang lebih baik dari Hafsah.” Tak lama kemudian, Hafsah dinikahi Rasulullah SAW, sedang Usman dengan Ummu Kalsum, putri RasuluLlah SAW juga.

Suatu malam di kamar Hafsah, Rasulullah SAW sedang berdua dengan isterinya yang lain, Maria. Hafsah cemburu berat, lantas menceritakan kepada Aisyah. Aisyah kemudian memimpin isteri-isteri yang lain, protes kepada RasuluLlah SAW.

Rasulullah SAW sangat marah dengan ulah isteri-isterinya itu. Saking marahnya, beliau tinggalkan mereka selama satu bulan. Terhadap kasus ini, kemudian Allah menurunkan wahyu surat at-Tahrim ayat 1-5.

Sejarah mencatat, Hafsahlah yang dipilih di antara isteri-isteri Rasululah SAW untuk menyimpan naskah pertama al-Qur’an. Hafsah wafat pada awal pemerintahan Mu’awiyah bin Abu Sufyan, dimakamkan di Ummahat al-Mu’minin di Baqi.

ZAINAB BINTI KHUZAIMAH (Ummul Mukminin kelima).
Di antara isteri-isteri RasuluLlah SAW, Zainablah yang wafat lebih dulu, setelah Khadijah. Para sejarawan tidak banyak tahu tentang Zainab, termasuk latar belakangnya. Tapi yang jelas ia juga seorang janda saat dinikahi Rasulullah SAW.

Hidupnya bersama Rasululah SAW, hanya singkat. Antara 4 sampai 8 bulan. Zainab terkenal dengan julukan Ummul Masaakiin, karena kedermawanannya terhadap kaum miskin. Zainab meninggal, ketika Rasulullah SAW masih hidup. Dan RasuluLlah SAW sendiri menshalati jenazahnya. Zainablah yang pertama kali dimakamkan di Baqi.

UMMU SALAMAH (Ummul Mukminin keenam).
Nama aslinya, Hindun binti Abu Umayah bin Mughirah. Suaminya bernama Abdullah bin Abdul Asad. Abdullah atau dipanggil Abu Salamah, meninggal ketika perang melawan Bani As’ad yang akan menyerang Madinah. Sebelum meninggal Abu Salamah berwasiat, agar isterinya ada yang menikahi dan orang itu harus lebih baik dari dirinya.

Abu Bakar ingin melaksanakan wasiat itu, dengan meminang Ummu Salamah tapi ditolak. Demikian pula Umar bin Khattab, juga ditolak. Tiada lain, RRasulullah SAW sendiri akhirnya yang maju. Dan diterima. Ketika itu umur Ummu Salamah hanya beberapa tahun dibawah Rasulullah SAW dan sudah beranak empat.

Sejarah mencatat, surat at-Taubah 102 turun tatkala Rasulullah SAW sedang berbaring di kamarnya Ummu Salamah. Dalam perjanjian Hudaibiyah, Umum Salamah punya peranan penting.

Banyak sahabat Rasulullah SAW yang protes terhadap perjanjian itu, termasuk Umar. Usai perjanjian ditandatangani, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat agar menyembelih ternak dan memotong rambut. Namun tidak ada yang melakukan seruan itu. Rasulullah SAW mengulangnya sampai tiga kali, tapi tetap tidak ada yang menyahut. Dengan kesal dan marah kembali ke kemahnya.

Ummu Salamah lantas usul, agar Rasulullah SAW jangan hanya bicara, langsung saja contoh. Benar juga, RasuluLlah SAW lantas keluar menyembelih ternak dan menyuruh pembantu memotong rambut beliau. Kaum muslimin kemudian banyak yang mengikuti rindakan RasuluLlah SAW ini, karena takut dikatakan tidak mengikuti sunnah Rasulullah SAW. Ummu Salamah banyak mengikuti peperangan. Ia hidup sampai usia lanjut. Ia wafat setelah peristiwa Karbala, yakni terbunuhnya Husein, cucu Rasulullah SAW. Ummu Salamah adalah Ummahatul Mukminin yang paling akhir wafatnya.

ZAINAB BINTI JAHSY (Ummul Mukminin ketujuh).
Zainab adalah bekas isteri Zaid bin Haritsah yang telah bercerai. Sedang Zaid adalah anak angkat Rasulullah SAW. Zainab sendiri dengan RasuluLlah SAW juga masih bersaudara. Karena wanita ini adalah cucu Abdul Muthalib, kakek Rasulullah SAW (baca Sejarah, Sahid, April l997).

Meski perkawinan Zainab dengan Nabi jelas-jelas perintah Allah, tapi gosip menyelimuti perkawinan mereka. Wahyu yang memerintah Nabi agar menikahi Zainab itu ada pada al-Ahzab 37. Dari perkawinan inilah kemudian turun hukum-hukum pernikahan, termasuk perintah hijab (al-Ahzab 53).

JUWAIRIAH BINTI HARITS (Ummul Mukminin kelapan).
Nama sebenarnya adalah Barrah binti Harits bin Abi Dhirar, putri pimpinan pemberontak dari suku Bani Musthalaq, Harits bin Dhirar. Setelah menikah dengan Nabi berganti nama Juwairiah. Sebelumnya, Juwairiah adalah tawanan perang.

Riwayat selanjutnya tak banyak diketahui oleh para sejarawan. Hanya ia meninggal dalam usia 65 tahun, di Madinah, pada masa Muawiyah. Dishalatkan dengan Imam Amir Madinah yaitu Marwan bin Hakam.

SOFIYAH BINTI HUYAI (Ummul Mukminin kesembilan).
Satu-satunya isteri Nabi dari golongan Yahudi ya Sofiyah ini. Sofiyah masih keturunan Nabi Harun dan ibunya Barrah binti Samual. Meski usianya baru 17 tahun, tapi ia sudah dua kali menikah. Pertama dengan Salam bin Masyham, dan kedua dengan Kinanah bin Rabi bin Abil Haqiq, pemimpin benteng Qumus, benteng terkuat di Khaibar, markasnya kaum Yahudi.

Dikawininya Sofiyah itu, Nabi sebenarnya berharap agar kebencian kaum Yahudi kepada kaum muslimin dapat diredam. Sofiyah wafat tahun 50 Hijriah, pada zaman Mua’wiyah. Dimakamkan di Baqi.

UMMU HABIBAH BINTI SOFYAN (Ummul Mukminin ke sepuluh).
Nama sebenarnya Ramlah binti Abi Sofyan. Ia memang putri pemimpin Quraisy, Abu Sofyan, musuh bebuyutan Islam itu. Habibah adalah nama putri Ramlah hasil perkawinan dengan Ubaidillah, saudara Ummul Mukminin Zainab ra. Tentu saja Ramlah telah masuk Islam.

Berdua dengan suaminya, ia kemudian hijrah ke Habsyi (Afrika). Celakanya, sesampai di Habsyi suaminya murtad, masuk Nasrani. Selanjutnya, Ramlah dinikahi Rasulullah SAW. Mendengar ini, betapa marahnya Abu Sofyan, putrinya sendiri masuk Islam dan sekarang kawin dengan musuh besarnya, Nabi Muhammad SAW.

Sampai akhir hayatnya, Ramlah tetap membela Islam dan suaminya. Ia wafat pada usia 60 tahun. Juga dimakamkan di Baqi.

MARIAH AL QIBTIYAH (Ummul Mukminin kesebelas).
Mariah sebelumnya adalah budak kiriman dari raja Mesir. Kemudian diangkat derajatnya dengan dijadikan isteri Nabi. Setelah Khadijah, Mariah satu-satunya isteri Nabi yang melahirkan anak. Namanya Ibrahim bin Nabi Muhammad SAW. Cuma, sayangnya Ibrahim meninggal. Rasulullah SAW sangat sedih dengan kematian putranya itu.

Mariah wafat pada tahun 16 hijriah. Dishalatkan oleh Amir Mukminin Umar bin Khattab.

MAIMUNAH BINTI AL HARITS (Ummul Mukminin kedua belas).
Nama aslinya adalah Barrah binti Harits. Setelah menikah dengan Nabi, diganti dengan Maimunah. Perkawinan ini –Barrah ketika itu janda berumur 26 tahun– sesungguhnya atas permintaan paman Nabi, yakni Abbas bin Abdul Muthalib. Barrah sendiri adalah adik dari isteri Abbas. Tidak banyak yang diketahui sejarah Barrah. Yang jelas ia wafat pada tahun 51 hijriah..

(Sumber : Al Qoidun)

link: http://www.voa-islam.com

Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Anak

Tanggung Jawab Orang Tua Terhdap Anak

Oleh: Ustadz Ja’far Shadiq

Ahad, 7 Juni 2009

  1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman (Imaniyah)

Pendidikan iman adalah:

–         Mengikat anak dengan dasar-dasar keimanan sejak ia mengerti

–         Membiasakannya dengan rukun Islam sejak ia memahami

–         Mengajarkan dasar-dasar syariat sejak usia tamyiz

Pemahaman pendidikan ini harus dudasarkan pada wasiat-wasiat Rasulullah SAW, diantaranya:

A. Membuka Kehidupan Anak dengan Kalimat LA ILAHA ILLA ALLAH

Al Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

“Bacakanlah kepada anak-anakmu kalimat pertama dengan LAA ILAHA ILLA ALLAH”

B. Mengenalkan Hukum Halal dan Haram Kepada Anak Sejak Dini

Ibnu Jarrir dan Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia berkata: “Ajarkanlah mereka untuk taat kepada ALLAH dan takut berbuat maksiat kepada ALLAH serta suruhlah anak-anakmu untuk mentaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Karena hal itu akan memelihara mereka dari api neraka

C. Menyuruh Anak Untuk Beribadah ketika Memasuki Usia Tujuh Tahun

Al Hakim dan Abu Dawud meriwayatkan dari Ibnu Amr bin Al Ash ra. dari  Rasulullah SAW, bahwa beliau bersabda:

Perintahkanlah anak-anakmu menjalankan ibadah shalat pada usia tujuh tahun. Dan jika mereka berusia sepuluh tahun maka pukullah mereka jika tidak mau melaksanakannya dan pisahkanlah diantara mereka dalam tempat tidurnya”.

D. Mendidik Anak untuk Mencintai Rasul, Keluarganya, dan Membaca AL QURAN

Ath Thabrani meriwayatkan dari Ali ra. bahwa Nabi bersabda:

Didiklah anak-anakmu pada tiga hal: Mencintai nabimu, mencintai keluarganya, dan membaca AL QURAN. Sebab orang-orang yang ahli AL QURAN berada dalaml lindungan singgasana ALLAH pada hari tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan-Nya beserta para Nabi-Nya dan pilihan-Nya”.

2. Tanggung Jawab Moral (khuluqiyyah)

Wasiat dan petunjuk Rasulullah SAW:

Dari Ayyub bin Musa dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW bersabda:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَاً مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ. رواه الترمذى

Tidak ada suatu pemberian yang lebih utama yang diberikan seorang ayah kepada anaknya kecuali budi pekerti yang baik“. HR. At Turmudzi

Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Muliakanlah anak-anak kalian dan didiklah mereka dengan budi pekerti yang baik”. HR Ibnu Majah

Dari Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah SAW:

Diantara yang menjadi hak seorang anak atas orang tuanya adalah memperoleh budi pekertinya dan menamakannya dengan nama yang baik”. HR. Baihaqi

Fenomena-fenomena yang merupakan perbuatan buruk, moral terendah antara lain:

A. Berbohong

Keburukan berbohong:

– Merupakan tanda kemunafikan

– Mendapatkan murka ALLAH

– Dikategorikan sebagai pendusta

– Merupakan pengkhianatan

Bukhari, Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:

Jauhilah perbuatan dusta, sebab seseungguhnya dusta itu dapat mengakibatkan perbuatah durhaka, dan sesungguhnya perbuahatan durhaka itu akan menyeret kepada api neraka. Selama hamba itu berdusta dan terus-menerus berdusta, maka ALLAH akan mencatatnya sebagai pendusta”.

Abu Dawud meriwayatkan dari Suyfan Usaid Al Hadhromi ra. ia mendengarkan Rasulullah SAW bersabda:

Suatu pengkhianatan besar, apabila engkau berbicara kepada suadaramu dan ia membenarkan pembicaraanmu padahal engkau berdusta”.

Abu Dawud dan Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Amir ra.:

Pada suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah SAW duduk di tumah kami, ibuku berkata: “kemarilah aku akan memberimu” kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Apa yang akan engkau berikan kepadanya?” Ibuku berkata, “Aku akan memberikanmu kurma”. Maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya. “Kalau engkau tidak memberi sesuatu kepadanya, maka engkau akan dicatat sebagai pendusta”.

B. Mencuri

Ada sebuah cerita dari Abdullah bin Dinar, suatu hari aku keluar bersama Umar bin Khattab ra. menuju Makkah. Tiba-tiba seseorang penggembala turun dari gunung menghampiri kami. Umar berkata kepadanya untuk mengujinya, “Hai penggembala, juallah satu ekor kambing diantara kambing-kambing itu kepada kami”. Penggembala itu berkata, “Saya hanyalah seorang budak”. Umar berkata kepadanya, “Katakanlah kepada tuanmu, bahwa kambing itu dimakan serigala”. Penggembala itu bertanya, “Dimana ALLAH?”. Maka menangislah Umar ra. Lalu berangkat bersama budak itu. Kemudian dibelinya dari tuannya dan dibebaskannya. Umat berkata kepada budak penggembala itu. “Kalimat itu telah memerdekakanmu di dunia dan semoga kalimat itu pun akan memerdekakanmu di akhirat”

C. Suka Mencela dan Mencemooh

سِبَابُ اْلمُسْلِمِ فُسُوْقٌ وَ قِتَالُهُ كُفْرٌ

Mencaci maki muslim itu adalah petbuatan fasiq, sedangkan membunuhnya adalah perbuatab kufur“. HR Bukhari, Muslim dan lainnya

Orang mukmin itu tidak suka mencacu, tidak suka melaknat, tidak suka berkata keji serta tidak suka berkata kotor”. HR. At Turmudzi

D. Kenakalan dan Penyimpangan

Diantara pendidikan yang menjaga dari hal di atas adalah:

1. Menghindari Peniruan dan Taklid Buta

Janganlah salah seorang diantara kalian tidak memiliki pendirian dan berkata, “Aku bersama orang lain, jika mereka baik aku pun baik,  jika mereka buruk aku pun buruk”. Tetapi tetaplah pendirianmu, jika mereka baik maka baiklah dan jika mereka buruk maka jauhilah keburukan itu”. HR. At Turmudzi

2. Tidak teralalu larut dalam kenangan/ kemewahan

Imam Ahmad dan Abu Na’im meriwayatkan dari Mu’adz bun Jabal ra. secara marfu’ (langsung ke Rasulullah SAW)

Janganlah kamu bersenang-senang. Karena seseungguhnuya hamba-hamba ALLAH itu bukanlah orang-orang yang suka bersenang-senang”.

Maksud bersenang-senang di sini adalah berlebihan dalam kesenangan.

3. Tidak mendengarkan musik dan lagu-lagu porno

Barang siapa yang duduk mendengarkan nyanyian biduanita, maka ALLAH akan menuangkan air timah yang meleleh ke dalam telinganya pada hari kiamat”. HR Ibnu Asakir

4. Tidak bergaya dan bersikap menyerupai wanita

Sesungguhnya ALLAH mengutuk para lelaki yang bersikap dan bergaya seperti wanita, dan para wanita yang bersikap dan bergaya seperti lelaki”. HR. Bukhari, Abu Dawud dan At Turmudzi

5. Larangan pergaulan bebas dan memandang yang diharamkan

Janganlah seorang laki-laki dan wanita menyepi berduaan, karena ada setan sebagai pihak ketiga diantara mereka berdua”. HR At Turmudzi

Katakanlah kepada orang mukmin, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya

3. Tanggung Jawab Fisik (Jasadiyah)

Hal ini dimaksudkan agar anak tumbuh dewasa dengan kondisi fisik yang kuat, sehat, bergairah dan bersemangat.

A. Kewajiban memberi nafkah kepada keluarga dan anak

وَ اْلوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ صلى لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُّتِمَّ اْلرَّضَاعَة َج وَعَلىَ اْلمَوْلُوْدِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَ كِسْوَتُهُنَّ بِاْلمَعْروْفِ ج لاَ تُكَلَّفُ نَفْس أِلاَّ وُسْعَهَا

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan, dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya”(QS. 2: 233)

B. Mengikuti hidup sehat dalam makan, minum dan tidur

C. Melindungi diri dari penyakit menular

D. Pengobatan tergadap penyakit

E. Merealisasikan prinsip hidup “Tidak menyakiti diri sendiri dan orang laing”

F. Membiasakan anak berolah raga dan bermain ketangkasan

G. Membiasakan anak untuk zuhud dan tidak larit dalam kenikmatan

H. Membiasakan anak bersikap tegas dan menjauhkan diri dari pengangguran

4. Tanggung jawab pendidikan rasio (aqliyyah)

Yaitu membentuk pola pikir anak dengan segala sesuatu yang bermanfaat, seperti: tauhid, fiqh, mu’ammalah, kebudayaan, peradaban, dll.

  1. Kewajiban mengajar
  2. Menumbuhkan kesadaran berfikir
  3. Kejernihan berfikir

5. Tanggung jawab pendidikan kejiwaan (Nafsiyyah)

Yaitu untuk mendidik anak sejak mulai mengerti untuk bersikap berani terbuka, mandiri, suka menolong, bisa mengendalikan amarah dan senang kepada semua bentuk keutamaan jiwa dan moral sevara mutlak. Beberapa sikap yang harus dihindari: Sifat minder, penakut, kurang percaya diri, dengki dan pemarah.

6. Tanggung jawab pendidikan sosial (Ijtima’iyyah)

Yaitu mendidik anak sejak kecil agar terbiasa menjalankan perilaku sosial yang utama, antara lain:

  1. Penanaman prinsip dasar kejiwaan yang utama
  2. Memelihara hak orang lain
  3. Melaksanakan etika sosial
  4. Pengawasan dan kritik sosial

7. Tanggung jawab pendidikan seksual (Jinsiyyah)

Yaitu upaya pengajaran, penyadaran dan penerangan tentang masalah-masalah seksual kepada anak, sejak ia mengenal naluri seks dan perkawinan. Hal ini ada empat fase, yaitu:

1. Usia 7 – 10 tahun

Disebut dengan tamyis (prapubertas). Pada masa ini, anak diberi pelajaran tentang etika meminta izin dan memandang sesuatu

2. Usia 10 -14 tahun

Disebut masa murahaqah (masa peralihan/pubertas). Pada masa ini. Anak coba dihindarkan dari berbagai rangsangan seksual.

3. Usia 14-16 tahun

Disebut masa baligh (adolesen). Jika anak sudah siap untuk menikah, pada masa ini anak diberi pendidikan tentang etika/ adab hubungan seksual.

4. Usia lebih dari 16 tahun

Setelah masa adolesen disebut masa pemuda. Pada masa ini anak diberi pelajaran tentang cara melakukan isti’faf (menjaga diri dari perbuatan tercela), jika ia belum mampe melaksanakan pernikahan.

Persiapan dalam Menyambut Bulan Ramadhan

oleh ustadz Ja’far Shadiq

Materi Pengajian Rutin TPA AL ISTIQOMAH 190709 (1)

Materi Pengajian Rutin TPA AL ISTIQOMAH 190709Materi Pengajian Rutin TPA AL ISTIQOMAH 190709 (3)Materi Pengajian Rutin TPA AL ISTIQOMAH 190709